Di antara sunyi malam dan riuhnya pencarian makna, seorang santri menuliskan jejak-
jejak batinnya dalam guratan kata. Jendela Jejak bukan sekadar kumpulan syair, melainkan
serpihan perjalanan jiwa tentang rindu yang tak selalu terucap, tentang luka yang diam-diam
menguatkan, serta tentang harapan yang tetap menyala meski diterpa keraguan.
Melalui bahasa yang lirih namun dalam, pembaca diajak mengintip dunia seorang
santri: dunia yang dipenuhi tafakur, pergulatan diri, cinta yang terjaga, serta dialog panjang
dengan Tuhan. Setiap bait menjadi jendela, membuka pandangan baru tentang kehidupan,
keikhlasan, perjuangan, dan makna pulang.
Buku ini adalah potret kecil kehidupan penulis tentang jatuh dan bangkit, tentang
belajar dan mengerti, serta tentang perjalanan seorang santri dalam menemukan dirinya dan
Tuhannya.